Saat gundah sudah tidak dapat diselesaikan lagi. Jalan telah menjadi buntu, tertutup oleh manisnya duniawi yang kian rasa iri terhadap hingar-bingar kemewahan dunia. Suara kebersamaan tak lagi bergema diri, kesibukan mencari martabat harta dan kesenangan selalu menghantui untuk memenuhi kebutuhan akan sesuap nasi yang dapat mengganjal perut mereka. Tetapi saat fikiran sudah menguasai dan iman sudah tiada digunakan lagi sebagai pedoman hidup yang mulia, kesesatan pun terjadi. Mereka mengagungkan berhala dan meminta kekayaan dunia pada mahluk yang terbuang dari surga. Bahkan mereka mau menjadikan dirinya budak yang mau menuruti semua keinginan sang penuntun kesesatan.
Katakan saja namanya Herman, dia sehari-hari adalah seorang buruh bangunan yang bekerja keras demi anak dan istrinya. Keringat dan tenaga telah ia kerahkan tuk bekerja setiap hari demi mengebulkan asap didapurnya. Anak dan istrinya setia menunggu ia dirumah dengan harapan hari ini dapat uang untuk makan hari ini. Hidupnya tergolong sangat-sangat sederhana, dengan menempati gubug 6X10 yang ia miliki Herman mencoba tuk mempertahankan hidupnya demi keluarga.
Dalam pekerjaannya sebagai buruh bangunan, ia dikenal amatlah ulet dan rajin. Bahkan mandornya pun selalu menyanjung hasil pekerjaan Herman. Teman-temannya mengenal Herman sebagi pribadi yang baik dan sayang terhadap keluarganya. Kadang pak mandor juga tak segan-segan tuk memberikan Herman sedikit bonus pada gajihnya karena hasil dari pekerjaannya. Bahkan hal tersebut membuat teman-temannya iri hati kepada Herman.
Pada suatu hari saat penerimaan uang gajihnya Herman mendapatkan bonus berlebih dari mandornya, ia merasa dianak emaskan oleh mandornya. Ini membuat salah satu teman Herman yang memeang tak suka padanya geram. Namun bonus gajih itu tak membuatnya bersyukur palah mengeluh akan gaji yang diterimanya tak setara dengan keringat dan tenaga yang telah ia keluarkan. Pada suatu ketika temannya itu merencanakan sesuatu yang dapat membuat Herman dapat dipecat dari pekerjaannya. Ia menyalahi prosedur tentang komposisi bangunan yang akan dibuat oleh Herman.
Setelah melakukan aksinya tanpa diketahui oleh Herman ia pergi dan membiarkan Herman mendirikan bangunan yang tak terkomposisi dengan baik itu. Naasnya saat mandornya sedang lewat dibawah bangunan yang sedang dibuat oleh Herman, seketika itu juga tanpa angin tanpa badai bangunan tersebut ambruk dan menimpa tubuh mandornya. Saat itu juga mandor tersebut meninggal dunia, dan Herman pun dipecat oleh pemilik Proyek tersebut. Semenjak saat itu hidup Herman semakin terpuruk pada titik 0(enol) yang membuatnya frustasi pada hidupnya.
Setelah ia hidup berbulan-bulan dalam kemiskinan, Herman juga mendapatkan cobaan lain. Istri Herman yang dahulu setia dengannya hingga akhir khayat memutuskan tuk bercerai dengan Herman dan membawa serta anaknya yang masih kecil. Kini Herman sendirian menjalani hidup ia tak tahu harus berbuat apa dengan hidupnya yang sekarang berantakan. Jalan kakainya dalam melangkah tak lagi kokoh seperti dahulu, bahunya tak lagi setegap dahaulu saat masih ada penopang dan semangatnya dalam menjalani hidup yaitu anak dan istrinya.
Kini ia jalani hidup dengan menjadi buruh serabutan membantu setiap orang yang membutuhkan jasanya. Salah satu kerjanya adalah menjadi tukang sapu makam tua yang dihormati oleh masyarakat setempat. Setiap hari-hari tertentu ia datang ke makam tua itu untuk menyapu halaman dan membersihkan kuburan yang dikeramatkan oleh orang-orang yang berkunjung ke makam tersebut. Hampir sudah 1 tahun ia bekerja menjadi pembersih makam keramat itu, selain gaji yang kecil dari sang juru kunci yang biasanya memberikan uang seadanya pada Herman, ia juga kadang mendapatkan uang tips dari pengunjung makam tersebut. “ lumayan buat ngopi” kata Herman.
Pada suatu malam saat malam 1 sura, pengunjung makam tersebut melimpah dan Herman sangat senang dengan keadaan itu karena pasti banyak uang tips dari para pengunjung. Ia melihat pengunjung makam keramat ini rata-rata adalah orang kaya, bahkan mobil yang terparkir diluar sana sangat mewah dan sebagian dari pengunjung berpelat merah, pastilah mereka adalah pegawai pemerintah. Dengan membawa sekeranjang kemabang dan dupa dan duduk bersila menghadap makam keramat itu serta mulutnya komat-kamit tak karuan.
Dalam suasana khusyuk mereka menutup mata dan mungkin mendo’akan yang ada didalam makam itu.” Tapi aku juga pernah diberi tahu oleh juru kunci bahwa mereka disini sedang ngalap berkah”. Pikir Herman sambil mengingat kata-kata sang juru kunci. “Mencari kekayaan dengan cara instan”kata juru kunci. Dengan melihat pengujung yang berbusana indah dan mobil yang mewah. Herman mencoba mengkhayal bagaimana jika ia bisa seperti mereka. Pastinya hidupnya tidak akan seperti ini, dengan uangnya ia dapat mengembalikaan kebahagiannya. Semua yang hilang dapat ia miliki kembali, istri dan anaknya yang telah meninggalkan ia pun pasti bisa kembali lagi. Tak sadar ia lama-lama tertidur disuatu tempat dibagian makam keramat itu. Ia terlalu lelah tuk menahan matanya yang sedari tadi siang bekerja ditempat ini tanpa henti. Lama kelamaan dengan matanya mulai terpejam, diiringi dengan keheningan yang terjadi disekitar pemakaman.
Angin malam mulai berhembus seraya membawa aroma mistik yang semakin pekat. Dingin malam mulai terasa menusuk tulang, namun juga dingin yang tak biasa juga mulai terasa disekitar pemakaman. Saat itu Herman sedang duduk dibatu nisan tempat pemakaman tua, tiba-tiba ada orang tua memakai pakaian hitam dan jenggot yang panjang menutupi leher serta sebagian dadanya. Ia menanyakan pada Herman. “ apakah kau ingin menjadi kaya?”.
Herman terkaget tentang apa yang dikatakan laki-laki tua itu. Raut matanya ragu namun dengan cepat pula ia menjawab “ iya kek aku ingin kaya”. Dengan ragu Herman menjawab.
“kamu mau kaya seperti apa?”. Tanya kakek tua.
“ aku ingin kaya seperti orang-orang diluar sana kek, saya ingin punya mobil bagus,uang banyak”. Kata Herman.
“ semua itu bisa kamu miliki, segalanya... apa saja yang kau minta bisa aku kabulkan”. Dengan nada lantang kakek itu menjelaskan pada Herman.
“ segalanya yang ku inginkan ya Kek?”. Tanya Herman.
“ iya.. semuanya!”. Sambil mengelus jenggotnya.
“tapi kau harus tau aturannya...”
“aturan apa Kek?” tanya Herman.
“ Untuk menjadi kaya kamu harus tahu aturan, kamu harus melaksanakan semedi 3 elemen, yang dikuasai raja bumi, lautan dan gunung. Yang pertama kamu harus semedi kubur,kubur dirimu didalam tanah hingga setengah badan. Kedua kamu semedi di pantai selatan dan ketiga kamu harus bersemedi ditempat yang dikuasai raja gunung. Semuanya harus kau lakukan dengan kesungguhan hati serta tekat yang kuat untuk mendapatkan apa saja yang kamu mau. Cuma dalam 3 hari bersemedi maka dihari ke 7 setelah selesai semedi kau bisa kaya dan mendapatkan apa saja yang kau inginkan. Setelah kamu sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan, kamu datanglah ke 3 tempat bertapa. Berikan sesembahan dan korban seekor ayam cemani disetiap tempat. Dan ingatlah ditahun ke 7, kamu harus korbankan seseorang yang kamu cintai. Jika tidak maka kau lah yang akan jadi korban”. Jelas Kakek tua itu.
“ saya sanggup Kek, asalkan cepat kaya saya mau”.
Kakek tua berbaju hitam itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.. yang memekakan telingaku. Sehingga akau menutup kedua kupingku. Namun tanganku seperti ada yang menarik dari kedua telingaku, dan saat mataku terbuka si Juru kunci makam sudah didepanku. Saat itu juga aku terbangun.
“ Man ini sudah pagi, kau ketiduran ya?, tapi kenapa tidur diatas makam keramat ini?”.
“ Maaf pak.”
Dengan mata yang masih layu aku terbangun dan meminta maaf pada Juru kunci karena aku ketiduran saat bekerja. Matahari sudah menyapa lagi, menyinari langit beserta isinya. Kulakukan lagi aktifitasku seperti biasa. Bekerja sebagai buruh serabutan dan bahkan makan saja aku masih kesulitan. Masih teringat akan mimpiku tadi malam yang bertemu dengan orang tua berbaju serba hitam. Ia menyarankan aku ngalap berkah ke 3 tempat, tapi apa itu benar ya? Tanya dia dalam hati.
Kemudian ia mencari informasi tentang tempat-tempat yang diucapkan oleh Kakek tua dimimpinya. Begitu ia yakin sudah tahu akan tempat itu, maka tak ambil pusing lagi ia langsung melaksanakan langkah-langkah tuk membuka jalan kekayaannya itu. Pertama ia bersemedi dengan mengubur tubuhnya didalam tanah, hingga kepalanya saja yang terlihat. Semedi itu ia lakukan selama 1 hari dengan berpuasa. Kedua ia bertapa dipantai dengan berendam dalam air pantai, disan ia mendapatkan berbagai halangan seperti ditemani hantu-hantu penasaran yang meninggal dipantai dari hantu yang bermuka menyeramkan hingga hantu yang bermuka cantik. Hingga akhirnya ia didatangi oleh penguasa pantai selatan dan diberi mandat untuk bertapa lagi diGunung.
Setelah itu ia pergi ke gunung dan bertapa disana. Digunung ia mendapat godaan lebih dahsyat lagi yaitu hantu, setan dan Jin kafir yang menyeramkan. Hampir setengah mati ia dibuatnya, namun karena tekatnya ia pun berhasil melewatinya. Hingga ia diberi sebuah keris, yang konon berfungsi sebagai pengundang rejeki, ajian jaran goyang dan kekebalan tubuh.
Di rumah ia sudah tak sabar menanti datangnya kekayaannya itu. Bahkan ia tak bisa tidur dibuatnya. Setelah hari ke 7 ia bersemedi, ternyata benar apa yang dibilang Kakek tua itu. Sekarang uangnya datang sendiri tanpa dicari dan bekerja. Secara ghoib uang-uang itu mengumpul didalam almarinya. Bermilyar-milyar sekarang telah ia miliki dan mampu membeli rumah besar, mewah dan pastinya mahal. Mobil mewah sekarang mampu ia beli, sekarang ia tak terkucilkan lagi dalam masyarakatnya, karena ia sudah kaya sekarang.
Setelah kekayaan ia dapatkan sekarang ia mengajukan permintaan lagi pada keris itu, ia ingin anak dan istrinya kembali lagi. Dengan bertandanya keris itu bergetar, maka saat pagi hari anak dan istrinya sudah ada diberanda rumah dan kembali kepada Herman kembali. Hari-hari Herman dan keluarganya sekarang jauh lebih baik dan harmonis dengan bermandikan kekayaan dan kemewahan yang setara dengan kemewahan seorang Presiden. Istrinya sangat bahagia hidup dengan Herman saat ini, anaknya yang dulu kekurangan akan gizi sekarang sudah kecukupan gizi dan tumbuh menjadi anak yang sehat.
Setelah 7 tahun berlalu perjanjian itu sudah ditagih oleh ketiga penguasa elemen itu, di suatu malam ia bermimpi didatangi mereka dan meminta korban nyawa untuk membayar semua kekayaan yang ia dapatkan. Herman merasa kebingungan harus menjadikan siapa sebagai korban. Istri atau anaknya? Ia benar-benar bingung karena Herman sangat mencintai keluarganya itu, tapi disisi lain juka hal itu tak dilakukan maka kekayaan yang didapatkan bisa lenyap begitu saja.
Saat ia menatap mata istri dan anaknya, ia hanya bisa menangis dalam hati. Tak disangka semua ini akan terjadi dan rasa kehilangan pasti akan menyerang saat salah satu dari mereka dijadikan tumbal. Begitu mirisnya akibat darisemua ini. Meminta pada yang bukan Tuhan, tetapi pada iblis yang membawa pada kesesatan. Hidup yang dulu menyenangkan kini harus bersiap dengan perpisahan yang tidak dikehendaki.Namun setelah berpikir secara matang, ia mengadakan perjanjian lagi dengan penguasa 3 elemen itu melalui pelantara keris yang dimilikinya. Ia menyatakan diri sebagai tumbal dan memohon dibiarkan keluarganya tetap hidup dan membiarkan kekayaannya agar anak dan istrinya itu tetap hidup bahagia.
Dengan permintaan yang berat itu keris bergetar dengan sangat keras hingga tangan Herman tak kuasa memegangnya. Seluruh isi rumah serasa bergetar, setelah semua itu berlalu dan getaran hebat dirumah Herman berhenti, terlihat semua perabotan rumah berantakan porak-poranda. Sesosok tubuh terbaring dikamar Herman, tergulai lemas tanpa nyawa. Anak dan istrinya menangis histeris mendapati ayah kecintaannya telah meninggal. Keadaan tubuhnya penuh lebam, dan mengeluarkan bau busuk. Warga yang melayat saat itu juga menutup hidungnya, bahkan saat upacara penguburan disinyalir tubuhnya bebeda. Karena setelah dibuka tali pocongnya seorang warga melihat sebongkah pelepah pohon pisang yang menyembul dari pocongan itu. Namun demi menghormati keluarga almarhum ia menutup mulutnya dan melupakan apa yang baru saja ia lihat.
Itulah akhir seorang Herman yang tak bisa menerima kekurangan dirinya. Tak kuat dalam iman dan kepercayaan pada sang Tuhan. Tidak siap menerima kenyataan hidup serta bberat cobaan yang diberikan Tuhan. Dia mudah terbuai dengan keindahan dunia yang hanya sementara. Sekarangpun arwah dari Herman tersesat dimakam tua keramat dan ia dijadikan budak abadi dari Kakek tua yang ternyata merupakan perwujudan Iblis yang menyesatkan manusia.
Afit Baehaqi 19 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Menerima saran dan kritik