Senin, 29 Agustus 2011

Ratu Kidul


Kanjeng Ratu Kidul

 
292 Votes
Siapakah sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul itu? Benarkah ada dalam kesungguhannya, ataukah hanya dikenal dalam dongeng saja?

Pertanyaan ini pantas timbul, karena Kanjeng Ratu Kidul termasuk makhluk halus. Hidupnya di alam limunan (gaib), dansukar untuk dibuktikan dengan nyata. Pada umumnya oarang mengenalnya hanya dari tutur kata dan dari semua cerita atau kata orang ini, orang itu, bila dikumpulkan akan menjadi seperti berikut:
Menurut cerita umum, Kanjeng Ratu Kidul pada mudanya bernama Dewi Retna Suwida, seorang putri dari Pajajaran, anak Prabu Mundhingsari, dari istrinya yang bernama Dewi Sarwedi, cucu Sang Hyang Saranadi, cicit Raja siluman di Sigaluh.
Sang putri melarikan diri dari keraton dan bertapa di gunung Kombang. Selama bertapa ini sering nampak kekuatan gaibnya, dapat berganti rupa dari wanita menjadi pria atau sebaliknya. Sang putri wadat (tidak bersuami) dan menjadi ratu diantara makhluk halus seluruh pulau jawa. Istananya didasar samudra indonesia. Tidaklah mengherankan, karena sang putri memang mempunyai darah keturunan dari makhluk halus.
Diceritakan selanjutnya, bahwa setelah menjadi raru sang putri lalu mendapat julukan Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari. Ada juga sementara orang yang menyebut Nyai Lara Kidul (di keraton surakarta sebutan Nyai Lara Kidul adalah untuk patihnya, bukan untuk Kanjeng Ratu Kidul sendiri). Malahan ada juga yang menyebutnya Nyira Kidul. Dan yang menyimpang lagi adalah: Bok Lara Mas Ratu Kidul. Kata “Lara” berasal dari “Rara”, yang berarti perawan (tidak kawin).
Dikisahkan, bahwa Dewi Retna Suwida yang cantiknya tanpa tanding itu menderita sakit budhug (lepra). Utuk mengobatinya harus mandi dan merendam diri didalam suatu telaga, di pinggir samudra. Konon pada suatu hari, tatkala akan membersihkan muka sang putri melihat bayangan mukanya di permukaan air. Terkejut karena melihat mukanya yang sudah rusak, sang putri lalu terjun kelaut dan tidak kembali lagi ke daratan, dan hilanglah sifat kemanusiaannya serta menjadi makhluk halus.
Ceritaa lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kanjeng Ratu Angin-angin. Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu makhluk halus saja melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan, mulai darah Jogjakarta sampai dengan Banyuwangi.
Camat desa Paga menerangkan bahwa daerah pesisirnya mempunyai adat bersesaji ke samudra selatan untuk Nyi Rara Kidul. Sesajinya diatur didalam rumah kecil yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut (sanggar). Juga pesisir selatan Lumajang setiap tahun mengadakan korban kambing untuknya dan orang pun banyak sekali yang datang.
Mr Welter, seorang warga belanda yang dahulu menjadi Wakil ketua Raad van Indie, menerangkan bahwa tatkala ia masih menjadi kontrolir di Kepanjen, pernah melihat upacara sesaji tahunan di Ngliyep, salah satu pesisir pantai selatan, Jawa timur, yang khusus diadakan untuk Nyai rara kidul. Ditunjukkannya gambar sebuah rumah kecil dengan bilik di dalamnya berisi tempat peraduan dengan sesaji punjungan untuk Nyai Rara Kidul.
Seorang perwira ALRI yang sering mengadakan latihan didaerah ngliyep menerangkan bahwa di pulau kecil sebelah timur ngliyep memang masih terdapat sebuah rumah kecil, tetapi kosong saja sekarang. Apakah rumah ini terlukis gambar Tuan Welter, belumlah dapat dipastikan.
Pengalaman seorang kenalan dari Malang menyebutkan bahwa pada tajun 1955 pernah ada serombongan oran-orang yang nenepi (pergi ke tempat-tempat sepi dan keramat) dipulau karang kecil, sebelah timur Ngliyep.
Seorang diantara mereka adalah gurunya. Dengan cara tanpa busana mereka bersemadi disitu. Apa yang kemudian terjadi ialah, bahwa sang guru mendapat kemben, tanpa diketahui dari siapa asalnya. Yang dapat diceritakannya ialah bahwa ia merasa melihat sebuah rumah emas yang lampunya bersinar-sinar terang sekali.
Dipacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian berwarna hijau gadung (hijau lembayung), yang erat hubungannya dengan Nyai Rara Kidul. Bila ini dilanggar orang akan mendapat bencana. Ini di buktikan denga terjadinya suatu malapetaka yang menimpa suami-istri bangsa belanda beserta dua orang anaknya. Mereka bukan saja tidak percaya pada larangan tersebut, bahkan mengejek dan mencemoohkannya. Pergilah mereka kepantai dengan berpakaian serba hijau. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, karena tiba-tiba ombak besar datang dan dan kembalinya kelaut sambil menyambar keempat orang belanda tersebut.
Artikel 2
Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.
Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.
Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta
Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.
Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Kosa kata bahasa Korea




Annyeong haseyo.. yang lagi cari-cari kosakata bahasa Korea, ini aku bagi sedikit-sedikit ya.. yar cpet diinget-ingetnya :

Sonsengnim : guru
Hakseng : murid
Anyoeng  Haseo  : salam saat bertemu orang dg membungkuk
Nae iremen.... imnida  :  Nama saya....
Manasoe banggap seumnida : senang bertemu denganmu
Nanen Indonesia esoe watseumnida  :  saya berasal dari Indonesia
Kamsahanida  :  terima kasih
Daeme to bebgetseumnida  : sampai bertemu lagi.
Saya  : na / jo(sopan)
Kami : uri
Dia : geu (L/P), geuneun(pria), geunyo(wanita).
Mereka : geu del
Hari ini : oneul
Besok : neil
Kemaren : oeje
Malam : bam,joenyeok
Siang : najae
Pagi : achim
Sarapan : achim siksa/ bab

Makan : mokda
Minum : masida
Makan malam : jeonyoek siksa
Makan siang : jaensim siksa
Pergi : gada
Jalan kaki : goeroe gada
Tertawa : utta
Menangis : unda
Senyum : utta/ miso
Sakit : appeunda
Sehat : goenganghada
Bapak : appa,aboeji
Ibu : omma,omeoni
Adik : dongseng
Kaka : oni/nuna
Kakek : haraboeji
Nenek : halmoeni
Ponakan : chokka
Paman : samchoen
Selamat belajar : yoelsimhi gongbu hase
Berdoa : gido hamnida
Apa kabar : anyoeng hasimnika?, jal jinetsoyo



Jumat, 26 Agustus 2011

Sesembahan Terakhir



Saat gundah sudah tidak dapat diselesaikan lagi. Jalan telah menjadi  buntu, tertutup oleh manisnya duniawi yang kian rasa iri terhadap hingar-bingar kemewahan dunia. Suara kebersamaan tak lagi bergema diri, kesibukan mencari martabat harta dan kesenangan selalu menghantui untuk memenuhi kebutuhan akan sesuap nasi yang dapat mengganjal perut mereka. Tetapi saat fikiran sudah menguasai dan iman sudah tiada digunakan lagi sebagai pedoman hidup yang mulia, kesesatan pun terjadi. Mereka mengagungkan berhala dan meminta kekayaan dunia pada mahluk yang terbuang dari surga. Bahkan mereka mau menjadikan dirinya budak yang mau menuruti semua keinginan sang penuntun kesesatan.
Katakan saja namanya Herman, dia sehari-hari adalah seorang buruh bangunan yang bekerja keras demi anak dan istrinya. Keringat dan tenaga telah ia kerahkan tuk bekerja setiap hari demi mengebulkan asap didapurnya. Anak dan istrinya setia menunggu ia dirumah dengan harapan hari ini dapat uang untuk makan hari ini. Hidupnya tergolong sangat-sangat sederhana, dengan menempati gubug 6X10 yang ia miliki Herman mencoba tuk mempertahankan hidupnya demi keluarga.
Dalam pekerjaannya sebagai buruh bangunan, ia dikenal amatlah ulet dan rajin. Bahkan mandornya pun selalu menyanjung hasil pekerjaan Herman. Teman-temannya mengenal Herman sebagi pribadi yang baik dan sayang terhadap keluarganya. Kadang pak mandor juga tak segan-segan tuk memberikan Herman sedikit bonus pada gajihnya karena hasil dari pekerjaannya. Bahkan hal tersebut membuat teman-temannya iri hati kepada Herman.
Pada suatu hari saat penerimaan uang gajihnya Herman mendapatkan bonus berlebih dari mandornya, ia merasa dianak emaskan oleh mandornya. Ini membuat salah satu teman Herman yang memeang tak suka padanya geram. Namun bonus gajih itu tak membuatnya bersyukur palah mengeluh akan gaji yang diterimanya tak setara dengan keringat dan tenaga yang telah ia keluarkan. Pada suatu ketika temannya itu merencanakan  sesuatu yang dapat membuat Herman dapat dipecat dari pekerjaannya. Ia menyalahi prosedur tentang komposisi bangunan yang akan dibuat oleh Herman.

Setelah melakukan aksinya tanpa diketahui oleh Herman ia pergi dan membiarkan Herman mendirikan bangunan yang tak terkomposisi dengan baik itu. Naasnya saat mandornya sedang lewat dibawah bangunan yang sedang dibuat oleh Herman, seketika itu juga tanpa angin tanpa badai bangunan tersebut ambruk dan menimpa tubuh mandornya. Saat itu juga mandor tersebut meninggal dunia, dan Herman pun dipecat oleh pemilik Proyek tersebut. Semenjak saat itu hidup Herman semakin terpuruk pada titik 0(enol) yang membuatnya frustasi pada hidupnya.
Setelah ia hidup berbulan-bulan dalam kemiskinan, Herman juga mendapatkan cobaan lain. Istri Herman yang dahulu setia dengannya hingga akhir khayat memutuskan tuk bercerai dengan Herman dan membawa serta anaknya yang masih kecil. Kini Herman sendirian menjalani hidup ia tak tahu harus berbuat apa dengan hidupnya yang sekarang berantakan. Jalan kakainya dalam melangkah tak lagi kokoh seperti dahulu, bahunya tak lagi setegap dahaulu saat masih ada penopang dan semangatnya dalam menjalani hidup yaitu anak dan istrinya.
Kini ia jalani hidup dengan menjadi buruh serabutan membantu setiap orang yang membutuhkan jasanya. Salah satu kerjanya adalah menjadi tukang sapu makam tua yang dihormati oleh masyarakat setempat. Setiap hari-hari tertentu ia datang ke makam tua itu untuk menyapu halaman dan membersihkan kuburan yang dikeramatkan oleh orang-orang yang berkunjung ke makam tersebut. Hampir sudah 1 tahun ia bekerja menjadi pembersih makam keramat itu, selain gaji yang kecil dari sang juru kunci yang biasanya memberikan uang seadanya pada Herman, ia juga kadang mendapatkan uang tips dari pengunjung makam tersebut. “ lumayan buat ngopi” kata Herman.
Pada suatu malam saat malam 1 sura, pengunjung makam tersebut melimpah dan Herman sangat senang dengan keadaan itu karena pasti banyak uang tips dari para pengunjung. Ia melihat pengunjung makam keramat ini rata-rata adalah orang kaya, bahkan mobil yang terparkir diluar sana sangat mewah dan sebagian dari pengunjung berpelat merah, pastilah mereka adalah pegawai pemerintah. Dengan membawa sekeranjang kemabang dan dupa dan duduk bersila menghadap makam keramat itu serta mulutnya komat-kamit tak karuan.
           
Dalam suasana khusyuk mereka menutup mata dan mungkin mendo’akan yang ada didalam makam itu.” Tapi aku juga pernah diberi tahu oleh juru kunci bahwa mereka disini  sedang ngalap berkah”. Pikir  Herman sambil mengingat kata-kata sang juru kunci. “Mencari kekayaan dengan cara instan”kata juru kunci. Dengan melihat pengujung yang berbusana indah dan mobil yang mewah. Herman mencoba mengkhayal bagaimana jika ia bisa seperti mereka. Pastinya hidupnya tidak akan seperti ini,  dengan uangnya ia dapat mengembalikaan kebahagiannya. Semua yang hilang dapat ia miliki kembali, istri dan anaknya yang telah meninggalkan ia pun pasti bisa kembali lagi. Tak sadar ia lama-lama tertidur disuatu tempat dibagian makam keramat itu. Ia terlalu lelah tuk menahan matanya yang sedari tadi siang bekerja ditempat ini tanpa henti. Lama kelamaan dengan matanya mulai terpejam, diiringi dengan keheningan yang terjadi disekitar pemakaman.
Angin malam mulai berhembus seraya membawa aroma mistik yang semakin pekat. Dingin malam mulai terasa menusuk tulang, namun juga dingin yang tak biasa juga mulai terasa disekitar pemakaman. Saat itu Herman sedang duduk dibatu nisan tempat pemakaman tua, tiba-tiba ada orang tua memakai pakaian hitam dan jenggot yang panjang menutupi leher serta sebagian dadanya. Ia menanyakan pada Herman. “ apakah kau ingin menjadi kaya?”.
Herman terkaget tentang apa yang dikatakan laki-laki tua itu. Raut matanya ragu namun dengan cepat pula ia menjawab “ iya kek aku ingin kaya”. Dengan ragu Herman menjawab.
“kamu mau kaya seperti apa?”. Tanya kakek tua.
“ aku ingin kaya seperti orang-orang diluar sana kek, saya ingin punya mobil bagus,uang banyak”. Kata Herman.
“ semua itu bisa kamu miliki, segalanya... apa saja yang kau minta bisa aku kabulkan”. Dengan nada lantang kakek itu menjelaskan pada Herman.
“ segalanya yang ku inginkan ya Kek?”. Tanya Herman.
“ iya.. semuanya!”. Sambil mengelus jenggotnya.
“tapi kau harus tau aturannya...”
“aturan apa Kek?” tanya Herman.
“ Untuk menjadi kaya kamu harus tahu aturan, kamu harus melaksanakan semedi 3 elemen, yang dikuasai raja bumi, lautan dan gunung. Yang pertama kamu harus semedi kubur,kubur dirimu didalam tanah hingga setengah badan. Kedua kamu semedi di pantai selatan dan ketiga kamu harus bersemedi ditempat yang dikuasai raja gunung. Semuanya harus kau lakukan dengan kesungguhan hati serta tekat yang kuat untuk mendapatkan apa saja yang kamu mau. Cuma dalam 3 hari bersemedi maka dihari ke 7 setelah selesai semedi kau bisa kaya dan mendapatkan apa saja yang kau inginkan. Setelah kamu sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan, kamu datanglah ke 3 tempat bertapa. Berikan sesembahan dan korban seekor ayam cemani disetiap tempat. Dan ingatlah ditahun ke 7, kamu harus korbankan seseorang yang kamu cintai. Jika tidak maka kau lah yang akan jadi korban”. Jelas Kakek tua itu.
“ saya sanggup Kek, asalkan cepat kaya saya mau”.
Kakek tua berbaju hitam itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.. yang memekakan telingaku. Sehingga akau menutup kedua kupingku. Namun tanganku seperti ada yang menarik dari kedua telingaku, dan saat mataku terbuka si Juru kunci makam sudah didepanku. Saat itu juga aku terbangun.
“ Man ini sudah pagi, kau ketiduran ya?, tapi kenapa tidur diatas makam keramat ini?”.
“ Maaf pak.”
Dengan mata yang masih layu aku terbangun dan meminta maaf pada Juru kunci karena aku ketiduran saat bekerja. Matahari sudah menyapa lagi, menyinari langit beserta isinya. Kulakukan lagi aktifitasku seperti biasa. Bekerja sebagai buruh serabutan dan bahkan makan saja aku masih kesulitan. Masih teringat akan mimpiku tadi malam yang bertemu dengan orang tua berbaju serba hitam. Ia menyarankan aku ngalap berkah ke 3 tempat, tapi apa itu benar ya? Tanya dia dalam hati.
Kemudian ia mencari informasi tentang tempat-tempat yang diucapkan oleh Kakek tua  dimimpinya. Begitu ia yakin sudah tahu akan tempat itu, maka tak ambil pusing lagi ia langsung melaksanakan langkah-langkah tuk membuka jalan kekayaannya itu. Pertama ia bersemedi dengan mengubur tubuhnya didalam tanah, hingga kepalanya saja yang terlihat. Semedi itu ia lakukan selama 1 hari dengan berpuasa. Kedua ia bertapa dipantai dengan berendam dalam air pantai, disan ia mendapatkan berbagai halangan seperti ditemani hantu-hantu penasaran yang meninggal dipantai  dari hantu yang bermuka menyeramkan hingga hantu yang bermuka cantik. Hingga akhirnya ia didatangi oleh penguasa pantai selatan dan diberi mandat untuk bertapa lagi diGunung.
Setelah itu ia pergi ke gunung dan bertapa disana. Digunung ia mendapat godaan lebih dahsyat lagi yaitu hantu, setan dan Jin kafir yang menyeramkan. Hampir setengah mati ia dibuatnya, namun karena tekatnya ia pun berhasil melewatinya. Hingga ia diberi sebuah keris, yang konon berfungsi sebagai pengundang rejeki, ajian jaran goyang dan kekebalan tubuh.
Di rumah ia sudah tak sabar menanti datangnya kekayaannya itu. Bahkan ia tak bisa tidur dibuatnya. Setelah hari ke 7 ia bersemedi, ternyata benar apa yang dibilang Kakek tua itu. Sekarang uangnya datang sendiri tanpa dicari dan bekerja. Secara ghoib uang-uang itu mengumpul didalam almarinya. Bermilyar-milyar sekarang telah ia miliki dan mampu membeli rumah besar, mewah dan pastinya mahal. Mobil mewah sekarang mampu ia beli, sekarang ia tak terkucilkan lagi dalam masyarakatnya, karena ia sudah kaya sekarang.
Setelah kekayaan ia dapatkan sekarang ia mengajukan permintaan lagi pada keris itu, ia ingin anak dan istrinya kembali lagi. Dengan bertandanya keris itu bergetar, maka saat pagi hari anak dan istrinya sudah ada diberanda rumah dan kembali kepada Herman kembali. Hari-hari Herman dan keluarganya sekarang jauh lebih baik dan harmonis dengan bermandikan kekayaan dan kemewahan yang setara dengan kemewahan seorang Presiden. Istrinya sangat bahagia hidup dengan Herman saat ini, anaknya yang dulu kekurangan akan gizi sekarang sudah kecukupan gizi dan tumbuh menjadi anak yang sehat.
Setelah 7 tahun berlalu perjanjian  itu sudah ditagih oleh ketiga penguasa elemen itu, di suatu malam ia bermimpi didatangi mereka dan meminta korban nyawa untuk membayar semua kekayaan yang ia dapatkan. Herman merasa kebingungan harus menjadikan siapa sebagai korban. Istri atau anaknya? Ia benar-benar bingung karena Herman sangat mencintai keluarganya itu, tapi disisi lain juka hal itu tak dilakukan maka kekayaan yang didapatkan bisa lenyap begitu saja.
Saat ia menatap mata istri dan anaknya, ia hanya bisa menangis dalam hati. Tak disangka semua ini akan terjadi dan rasa kehilangan pasti akan menyerang saat salah satu dari mereka dijadikan tumbal. Begitu mirisnya akibat darisemua ini. Meminta pada yang bukan Tuhan, tetapi pada iblis yang membawa pada kesesatan. Hidup yang dulu menyenangkan kini harus bersiap dengan perpisahan yang tidak dikehendaki.Namun setelah berpikir secara matang, ia mengadakan perjanjian lagi dengan penguasa 3 elemen itu melalui pelantara keris yang dimilikinya. Ia menyatakan diri sebagai tumbal dan memohon dibiarkan keluarganya tetap hidup dan membiarkan kekayaannya agar anak dan istrinya itu tetap hidup bahagia.
            Dengan permintaan yang berat itu keris bergetar dengan sangat keras hingga tangan Herman tak kuasa memegangnya. Seluruh isi rumah serasa bergetar, setelah semua itu berlalu dan getaran hebat dirumah Herman berhenti, terlihat semua perabotan rumah berantakan porak-poranda. Sesosok tubuh terbaring dikamar Herman, tergulai lemas tanpa nyawa. Anak dan istrinya menangis histeris mendapati ayah kecintaannya telah meninggal. Keadaan tubuhnya penuh lebam, dan mengeluarkan bau busuk. Warga yang melayat saat itu juga menutup hidungnya, bahkan saat upacara penguburan disinyalir tubuhnya bebeda. Karena setelah dibuka tali pocongnya seorang warga melihat sebongkah pelepah pohon pisang yang menyembul dari pocongan itu. Namun demi menghormati keluarga almarhum ia menutup mulutnya dan melupakan apa yang baru saja ia lihat.
Itulah akhir seorang Herman yang tak bisa menerima kekurangan dirinya. Tak kuat dalam iman dan kepercayaan pada sang Tuhan. Tidak siap menerima kenyataan hidup serta bberat cobaan yang diberikan Tuhan. Dia mudah terbuai dengan keindahan dunia yang hanya sementara. Sekarangpun arwah dari Herman tersesat dimakam tua keramat dan ia dijadikan budak abadi dari Kakek tua yang ternyata merupakan perwujudan Iblis yang menyesatkan manusia.
Afit Baehaqi 19 Juni 2011